Rabu, 05 Januari 2011

Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitaif
Pengertian Penelitian Kualitatif
Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.
Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yng menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasil kan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2)
Konsep dan Ragam Penelitian Kualitatif
Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas.
Di pihak lain kualitas menunjuk pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pemahaman yang demikian tidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang diteliti.
Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif.
Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan makna dari aspek desain penelitian.
Pengertian penelitian kualitatif lainnya:
“Qualitative research is a loosely defined category of research designs or models, all of which elicit verbal, visual, tactile, olfactory, and gustatory data in the form of descriptive narratives like field notes, recordings, or other transcriptions from audio- and videotapes and other written records and pictures or films.” –Judith Preissle
Penelitian kualitatif juga disebut dengan: interpretive research, naturalistic research, phenomenological research (meskipun ini disebut sebagai jenis dari penelitian kualitaif yang dipakai penelitian deskriptif).
Perbedaan Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif
Penelitian untuk membuktikan atau menemukan sebuah kebenaran dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu kantitatif maupun kualitatif. Kebenaran yang di peroleh dari dua pendekatan tersebut memiliki ukuran dan sifat yang berbeda.
Pendekatan kuantitatif lebih menitik beratkan pada frekwensi tinggi sedangkan pada pendekatan kualitatif lebih menekankan pada esensi dari fenomena yang diteliti. Kebenaran dari hasil analisis penelitian kuantitatif bersifat nomothetik dan dapat digeneralisasi sedangkan hasil analisis penelitian kualitatif lebih bersifat ideographik, tidak dapat digeneralisasi.
Hasil analisis penelitian kualitatif naturalistik lebih bersifat membangun, mengembangkan maupun menemukan terori-teori sosial sedangkan hasil analisis kuantitatif cenderung membuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada.
Perbedaan klasik antara kualitatif dan kuantitatif
Qualitative Research Quantitative Research
• phenomenological
• inductive
• holistic
• subjective/insider centered
• process oriented
• anthropological worldview
• relative lack of control
• goal: understand actor’s view
• dynamic reality assumed; “slice of life”
• discovery oriented
• explanatory • positivistic
• hypothetico/deductive
• particularistic
• objective/outsider centered
• outcome oriented
• natural science worldview
• attempt to control variables
• goal: find facts & causes
• static reality assumed; relative constancy in life
• verification oriented
• confirmatory
Diadaptasi dari Cook and Reichardt (1979)
Tetapi kesimpulan di sini masih terdapat dikotomi karena tidak menerangkan karakter khusus dari masing-masing jenis penelitian.
Metode Kuantitatif menggunakan angka-angka dan data staistik, seperti: experiments, correlational studies using surveys & standardized observational protocols, simulations, supportive materials for case study.
Yang biasanya ditandai dengan: 1. Observe events, 2. Tabulate, 3. Summarize data, 4. Analyze, 5. Draw conclusions
Sedangkan kualitatif menggunakan deskripsi dan kategori dalam wujud kata-kata, seperti: open-ended interviews, naturalistic observation (common in anthropology), document analysis, case studies/life histories, descriptive dan self-reflective supplements to experiments serta correlational studies.
Dengan ciri-ciri umum:
1. Observe events (ask questions with open-ended answers)
2. Record/log what is said and/or done
3. Interpret (personal reactions, hypotheses, monitor methods)
4. Return to observe
5. Formal theorizing (speculations and hypotheses)
6. Draw conclusions
Tiga proses yang dipakai
1. Detail tapi open-ended interviews
2. Observasi langsung
3. Menulis dokumen (dengan kata bukan angka)
Ditinjau dari sisi kemudahan
• kuantitatif, cukup dengan menggunakan software statistik tertentu lewat media komputer (meski harus tetap mengetahui proses statistik).
• Kualitatif, menganalisis konsep-konsep (bukan hanya satu prosedur)
• Kualitatif menggunakan banyak buku sebagai sumber analisa.
• Kuantitatif, cukup dengan mempelajari 2-3 artikel.
Sumber: http://qualitativeresearch.ratcliffs.net
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat ilmiah dan juga sistematis sebagaimana penelitian kuantitatif sekalipun dalam pemilihan sample tidak seketat dan serumit penelitian kuantitatif.
Dalam memilih sample penelitian kualitatif menggunakan teknik non probabilitas, yaitu suatu teknik pengambilan sample yang tidak didasarkan pada rumusan statistik tetapi lebih pada pertimbangan subyektif peneliti dengan didasarkan pada jangkauan dan kedalaman masalah yang ditelitinya.
Lebih lanjut pada penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk menarik kesimpulan suatu populasi melainkan untuk mempelajari karakteristik yang diteliti, baik itu orang ataupun kelompok sehingga keberlakukan hasil penelitian tersebut hanya untuk orang atau kelompok yang sedang diteliti tersebut.
Perbedaan Antara Penelitian Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
Kebutuhan pemahaman yang benar dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. PErbedaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yaitu:
1. Konsep yang berhubungan dengan pendekatan
Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
2. Dasar Teori
Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, maka dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala dengan gejala lain yang ditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan dengan cara mencari makna semantis universal dari gejala yang sedang diteliti. Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari penelitian-penelitian antropologi , etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena teori-teori ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu social lainnya mengadopsi sebagai sarana penelitiannya.
Lain halnya dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang disebut dengan fungsionalisme struktural, realisme, positivisme, behaviourisme dan empirisme yang intinya menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji empiris dan fakta-fakta yang nyata.
3. Tujuan
Tujuan utama penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”.
Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan hasilnya.
4. Desain
Melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan. Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan, oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.
Lain halnya dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, desainnya harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya. Desainnya bersifat spesifik dan detil karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya salah, hasilnya akan menyesatkan. Contoh desain kuantitatif: ex post facto dan desain experimental yang mencakup diantaranya one short case study, one group pretest, posttest design, Solomon four group design dll.nya.
5. Data
Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan catatan-catatan lapangan pada jsaat penelitian dilakukan.
Sebaliknya penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif / angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data tersebut berbentuk variable-variajbel dan operasionalisasinya dengan skala ukuran tertentu, misalnya skala nominal, ordinal, interval dan ratio.
6. Sampel
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sample didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sample merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample teoritis dan tidak representatif
Sedang pada pendekatan kuantitatif, jumlah sample besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sample besar akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi sample diperlukan . Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang sedang diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan diteliti, contoh, penentuan variable yang mana yang ditentukan sebagai variable bebas, variable tergantung, varaibel moderat, variable antara, dan varaibel kontrol. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap variable pengganggu.
7. Teknik
Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, maka yang bersangkutan kan menggunakan teknik observasi terlibat langsung atau riset partisipatori, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung atau berbaur dengan yang diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah interview terbuka, terstruktur atau tidak terstruktur dan tertutup terstruktur atau tidak terstruktur.
Jika pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan berbentuk observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan eksperimen semu. Dalam mencari data, biasanya peneliti menggunakan kuesioner tertulis atau dibacakan. Teknik mengacu pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan apakah itu data primer atau sekunder.
8. Hubungan dengan yang diteliti
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sample itu manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek penelitian.
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada umumnya penelitiannya berjangka waktu pendek.
9. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded theory research).
Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dll.nya.
Kesimpulan
Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.
Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya.

Memilih Penelitian Kualitatif: Sebuah Primer untuk Peneliti Teknologi Pendidikan
Marie C. Hoepfl
Sejumlah penulis telah berkomentar tentang kelangkaan penelitian substantif dalam bidang pendidikan teknologi, dan titik untuk perluasan agenda penelitian sebagai sarana untuk memperkuat disiplin. Waetjen, dalam panggilan-Nya untuk penelitian baik di bidang pendidikan teknologi, menyatakan bahwa "permohonan adalah menggunakan jenis penelitian eksperimental sebanyak mungkin" (1992, hal 30). Menariknya, tiga bidang penelitian perlu dijelaskan dalam esainya semua akan meminjamkan diri untuk metodologi alternatif, termasuk metodologi kualitatif.
Baru-baru ini, yang lain telah menyerukan perluasan jenis metode penelitian yang digunakan. Dari 220 laporan termasuk dalam's review Zuga pendidikan yang berhubungan dengan riset teknologi (1994), hanya 16 yang diidentifikasi memiliki menggunakan metode kualitatif, dan catatan Zuga bahwa banyak dari mereka penelitian dilakukan di luar Amerika Serikat. Johnson (1995) menunjukkan bahwa pendidik teknologi "terlibat dalam penelitian yang probe untuk pemahaman yang lebih dalam daripada menimbang fitur permukaan." Dia mencatat bahwa metodologi kualitatif adalah alat yang kuat untuk meningkatkan pemahaman kita mengajar dan belajar, dan bahwa mereka telah "memperoleh penerimaan meningkat dalam beberapa tahun terakhir" (hal. 4).
Ada alasan kuat untuk pemilihan metodologi kualitatif dalam arena penelitian pendidikan, namun banyak orang masih terbiasa dengan metode ini. Para peneliti dilatih dalam penggunaan desain kuantitatif menghadapi tantangan nyata ketika diminta untuk menggunakan atau mengajar penelitian kualitatif (Stallings, 1995). Ada, bagaimanapun, tubuh tumbuh sastra yang ditujukan untuk penelitian kualitatif dalam pendidikan, beberapa yang disintesis di sini.Tujuan artikel ini adalah untuk menguraikan alasan untuk memilih metodologi kualitatif, dan untuk memberikan pengenalan dasar dengan fitur dari jenis penelitian.
Paradigma Penelitian Kualitatif Kuantitatif Versus
Para peneliti telah lama memperdebatkan nilai relatif dan kuantitatif penyelidikan kualitatif (Patton, 1990). penyelidikan fenomenologis, atau penelitian kualitatif, menggunakan pendekatan naturalistik yang berusaha untuk memahami fenomena dalam konteks pengaturan khusus. positivisme logis, atau penelitian kuantitatif, menggunakan metode eksperimental dan ukuran kuantitatif untuk menguji generalisasi hipotesis. Masing-masing mewakili penyelidikan paradigma yang berbeda secara fundamental, dan tindakan peneliti didasarkan pada asumsi yang mendasari paradigma masing-masing.
penelitian kualitatif, didefinisikan secara luas, berarti "setiap jenis penelitian yang menghasilkan temuan tidak tiba di dengan menggunakan prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi" (Strauss dan Corbin, 1990, hal 17). Dimana mencari penentuan peneliti kuantitatif kausal, prediksi, dan generalisasi dari temuan, peneliti kualitatif, bukan mencari pencerahan, pemahaman, dan ekstrapolasi untuk situasi yang sama. Analisis kualitatif menghasilkan jenis pengetahuan yang berbeda daripada penyelidikan kuantitatif.
Eisner menunjukkan bahwa semua pengetahuan, termasuk yang diperoleh melalui penelitian kuantitatif, yang dirujuk dalam kualitas, dan bahwa ada banyak cara untuk mewakili pemahaman kita tentang dunia:
Ada semacam kontinum yang bergerak dari fiksi yang "benar"-novel misalnya-untuk th e sangat dikontrol dan kuantitatif dijelaskan percobaan ilmiah. Bekerja di salah satu ujung kontinum ini memiliki kapasitas untuk menginformasikan secara signifikan. penelitian kualitatif dan evaluasi terletak menjelang akhir dari kontinum fiktif tanpa fiksi dalam arti sempit istilah Eisner 1991,, hlm 30-31).
Ini gema sentimen bahwa dari penulis sebelumnya. Cronbach (1975) menyatakan bahwa "tugas khusus dari ilmuwan sosial di setiap generasi adalah untuk pin down fakta kontemporer. Selain itu, ia saham dengan sarjana humanistik dan seniman dalam upaya untuk memperoleh informasi tentang hubungan kontemporer" (hal. 126).
Cronbach mengklaim bahwa penelitian statistik tidak dapat memperhitungkan efek interaksi banyak yang terjadi dalam pengaturan sosial. Dia memberikan beberapa contoh empiris "hukum" yang tidak terus benar dalam pengaturan yang sebenarnya untuk menggambarkan hal ini. Cronbach menyatakan bahwa "waktunya telah datang untuk mengusir hipotesis null," karena mengabaikan efek yang mungkin penting, tetapi yang tidak signifikan secara statistik (1975, hal 124). penyelidikan kualitatif menerima dan dinamis kualitas kompleks dunia sosial.
Namun, tidak perlu ke pit kedua paradigma terhadap satu sama lain dalam sikap bersaing. Patton (1990) menganjurkan suatu "paradigma pilihan" yang berusaha "kesesuaian metodologi sebagai kriteria utama untuk menilai kualitas metodologis. " Ini akan memungkinkan untuk "tanggap situasional" yang ketaatan satu paradigma atau yang lain tidak akan (hal. 39). Selain itu, beberapa peneliti percaya bahwa penelitian kualitatif dan kuantitatif secara efektif dapat dikombinasikan dalam proyek penelitian yang sama (Strauss dan Corbin, 1990; Patton, 1990). Sebagai contoh, Russek dan Weinberg (1993) mengklaim bahwa dengan menggunakan kedua data kuantitatif dan kualitatif, penelitian mereka tentang bahan berbasis teknologi untuk kelas dasar memberikan wawasan bahwa baik jenis analisis dapat menyediakan sendiri.
Dasar Penggunaan suatu Metodologi Kualitatif
Ada beberapa pertimbangan saat memutuskan untuk mengadopsi metodologi penelitian kualitatif. Strauss dan Corbin (1990) mengklaim bahwa metode kualitatif dapat digunakan untuk lebih memahami setiap fenomena tentang yang sedikit belum diketahui. Mereka juga dapat digunakan untuk mendapatkan perspektif baru pada hal-hal yang banyak yang sudah dikenal, atau untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam yang mungkin sulit untuk menyampaikan secara kuantitatif. Dengan demikian, metode kualitatif yang tepat dalam situasi di mana satu perlu terlebih dahulu mengidentifikasi variabel yang lambat mungkin diuji secara kuantitatif, atau dimana peneliti telah menetapkan bahwa tindakan kuantitatif tidak cukup untuk menjelaskan atau menafsirkan situasi. Penelitian masalah cenderung dibingkai sebagai-berakhir pertanyaan terbuka yang akan mendukung penemuan informasi baru. 1994 studi Greene perempuan dalam perdagangan, misalnya, bertanya, "Apa ciri-ciri pribadi yang tradeswomen memiliki kesamaan perdagangan? Dalam hal apa, jika ada, peran itu model kontribusi perempuan terhadap pilihan untuk bekerja di?"
(P. 524a).
Kemampuan data kualitatif untuk lebih menggambarkan suatu fenomena adalah suatu pertimbangan penting tidak hanya dari sudut pandang peneliti, tetapi dari sudut pandang pembaca juga. "Jika Anda ingin orang untuk memahami lebih baik dari mereka jika mungkin, menyediakan mereka informasi dalam bentuk di mana mereka biasanya mengalami hal itu" (Lincoln dan Guba, 1985, hal 120) laporan penelitian kualitatif., biasanya kaya dengan detail dan wawasan ke peserta 'pengalaman dunia, "mungkin epistemologis selaras dengan pengalaman pembaca" (Stake, 1978, hal 5) dan dengan demikian lebih bermakna.
Fitur Penelitian Kualitatif
Beberapa penulis telah mengidentifikasi apa yang mereka anggap sebagai ciri-ciri menonjol kualitatif, atau naturalistik, penelitian (lihat, sebagai contoh:Bogdan dan Biklen, 1982; Lincoln dan Guba, 1985; Patton, 1990; Eisner, 1991.) Daftar yang mengikuti merupakan sintesis penulis deskripsi ini penelitian kualitatif:
1. penelitian kualitatif menggunakan pengaturan alam sebagai sumber data. Peneliti mencoba untuk mengamati, menggambarkan dan menafsirkan pengaturan seperti mereka, menjaga apa yang Patton panggilan sebuah "netralitas empati" (1990, hal 55).
2. Peneliti bertindak sebagai "instrumen manusia" pengumpulan data.
3. terutama peneliti kualitatif menggunakan analisis data induktif.
4. laporan penelitian kualitatif deskriptif, menggabungkan bahasa ekspresif dan "kehadiran suara dalam teks" (Eisner, 1991, hal 36).
5. penelitian kualitatif memiliki karakter interpretif, yang ditujukan untuk menemukan peristiwa makna "bagi individu yang mengalaminya, dan interpretasi dari makna oleh peneliti.
6. peneliti kualitatif memperhatikan istimewa serta meresap, mencari keunikan masing-masing kasus.
7. penelitian kualitatif memiliki (sebagai lawan yang telah ditentukan) desain muncul, dan peneliti fokus pada proses ini muncul sebagai serta hasil atau produk penelitian.
8. penelitian kualitatif dinilai menggunakan kriteria khusus untuk dipercaya (ini akan dibahas secara rinci pada bagian selanjutnya).
Patton (1990) menunjukkan bahwa ini bukan "karakteristik mutlak penyelidikan kualitatif, tetapi cita-cita strategis yang memberikan arah dan kerangka kerja untuk mengembangkan desain tertentu dan taktik pengumpulan data konkret" (hal. 59). Karakteristik ini dianggap "saling berhubungan" (Patton, 1990, hal 40) dan "saling menguatkan" (Lincoln dan Guba, 1985, hal 39).
Adalah penting untuk menekankan sifat muncul desain penelitian kualitatif. Karena peneliti berusaha untuk mengamati dan menafsirkan makna dalam konteks, adalah tidak mungkin dan tidak tepat untuk menyelesaikan strategi penelitian sebelum pengumpulan data telah dimulai (Patton, 1990). Proposal penelitian kualitatif harus, bagaimanapun, tentukan pertanyaan-pertanyaan primer untuk dijelajahi dan rencana untuk data koleksi strategi.
Desain khusus dari studi kualitatif tergantung pada tujuan penyelidikan, informasi apa yang akan paling bermanfaat, dan informasi apa yang akan memiliki kredibilitas yang paling. Tidak ada kriteria yang ketat untuk ukuran sampel (Patton, 1990). "Penelitian kualitatif biasanya menggunakan berbagai bentuk ....[ bukti dan] tidak ada uji statistik penting untuk menentukan apakah 'hasil' count" (Eisner, 1991, hal 39). Hukum tentang manfaat dan kredibilitas yang diserahkan kepada peneliti dan pembaca.
Peran Peneliti di Inquiry Kualitatif
Sebelum melakukan studi qualtitative, seorang peneliti harus melakukan tiga hal. Pertama, (s) ia harus mengambil sikap yang disarankan oleh karakteristik paradigma naturalis. Kedua, para peneliti harus mengembangkan tingkat keterampilan yang sesuai untuk instrumen manusia, atau kendaraan melalui data yang akan dikumpulkan dan diinterpretasikan. Akhirnya, para peneliti harus mempersiapkan desain penelitian yang memanfaatkan diterima strategi untuk penyelidikan naturalistik (Lincoln dan Guba, 1985).
Glaser dan Strauss (1967) dan Strauss dan Corbin (1990) merujuk pada apa yang mereka sebut "sensitivitas teoritis" peneliti. Ini adalah konsep yang berguna yang dapat digunakan untuk mengevaluasi peneliti keterampilan dan kesiapan untuk mencoba melakukan penyelidikan kualitatif.
kepekaan teoritis mengacu pada kualitas pribadi peneliti. Hal ini menunjukkan kesadaran seluk-beluk makna data. ... [Ini] mengacu pada atribut memiliki wawasan, kemampuan untuk memberi makna pada data, kemampuan untuk memahami, dan kemampuan untuk memisahkan yang bersangkutan dari apa yang tidak (Strauss dan Corbin, 1990, hal 42) .
Strauss dan Corbin percaya bahwa kepekaan teoritis berasal dari sejumlah sumber, termasuk literatur profesional, pengalaman profesional, dan pengalaman pribadi. Kredibilitas laporan penelitian kualitatif sangat bergantung pada kepercayaan pembaca miliki dalam peneliti kemampuan untuk peka terhadap data dan untuk membuat keputusan yang tepat dalam bidang (Eisner, 1991; Patton, 1990).
Lincoln dan Guba (1985) mengidentifikasi karakteristik yang membuat manusia itu "alat pilihan" untuk penyelidikan naturalistik. Manusia responsif terhadap isyarat lingkungan, dan mampu berinteraksi dengan situasi; mereka memiliki kemampuan untuk mengumpulkan informasi pada tingkat secara bersamaan, mereka dapat melihat situasi secara holistik, mereka mampu memproses data secepat mereka menjadi tersedia; mereka dapat memberikan umpan balik langsung dan meminta verifikasi data; dan mereka bisa menjelajahi atau tidak terduga tanggapan atipikal.
Penelitian Desain dan Strategi Pengumpulan Data
Eisner (1991) mengklaim ada "kekurangan resep metodologis" untuk penelitian kualitatif, karena pertanyaan seperti tempat premi pada kekuatan peneliti bukan pada standardisasi (hal. 169). Lincoln dan Guba (1985) memberikan garis besar yang cukup rinci untuk desain penyelidikan naturalistik, yang meliputi langkah-langkah umum:
1. Menentukan fokus penyelidikan. Hal ini harus menetapkan batas untuk penelitian, dan memberikan inklusi / kriteria eksklusi untuk informasi baru. Batas, bagaimanapun, dapat diubah, dan biasanya berada.
2. Tentukan sesuai paradigma penelitian untuk fokus penelitian. Peneliti harus membandingkan karakteristik paradigma kualitatif dengan tujuan penelitian.
3. Menentukan di mana dan dari siapa data akan dikumpulkan.
4. Tentukan apa yang berturut-turut fase penyelidikan akan,. Tahap satu untuk misalnya, mungkin fitur-berakhir pengumpulan data terbuka, sedangkan fase berturut-turut akan lebih terfokus.
5. Tentukan apa yang instrumentasi tambahan dapat digunakan, di luar peneliti sebagai instrumen manusia.
6. Rencana pengumpulan data dan mode perekaman. Ini harus termasuk bagaimana spesifik pertanyaan penelitian dan rinci akan, dan bagaimana data akan setia direproduksi.
7. Rencana yang prosedur analisis data yang akan digunakan.
8. Rencana logistik pengumpulan data, termasuk penjadwalan dan penganggaran.
9. Rencana teknik yang akan digunakan untuk menentukan kepercayaan.
Langkah satu dan dua telah dibahas dalam bagian sebelumnya, langkah berikutnya akan dibahas di bawah ini.
Sampling Strategi untuk Peneliti Kualitatif
Dalam penyelidikan kuantitatif, strategi sampling dominan adalah probability sampling, yang tergantung pada pemilihan dan perwakilan sampel acak dari populasi yang lebih besar. Tujuan sampling probabilitas generalisasi berikutnya dari temuan penelitian untuk penduduk. Sebaliknya, purposive samplingmerupakan strategi yang dominan dalam penelitian kualitatif. purposive sampling mencari kaya kasus informasi yang dapat dipelajari secara mendalam (Patton, 1990).
Patton mengidentifikasi dan menggambarkan 16 jenis purposive sampling. Ini termasuk: kasus menyimpang sampling atau ekstrim; sampling kasus yang khas; sampling variasi maksimum; snowball sampling atau rantai; konfirmasi atau disconfirming kasus sampling; politik sampling kasus penting, convenience sampling, dan lain-lain (1990, hal 169-183). Menurut Lincoln dan Guba (1985), yang berguna strategi yang paling untuk pendekatan naturalistik adalah variasi sampling maksimum. Strategi ini
bertujuan untuk menangkap dan menggambarkan tema pusat atau hasil pokok yang melintasi banyak atau program variasi peserta. Untuk sampel kecil banyak heterogenitas dapat menjadi masalah karena kasus-kasus individu sangat berbeda satu sama lain. Variasi maksimum strategi sampling jelas ternyata bahwa kelemahan menjadi kekuatan dengan menggunakan logika berikut: Setiap pola umum yang muncul dari variasi yang besar adalah dari kepentingan tertentu dan nilai dalam menangkap pengalaman inti dan pusat, aspek bersama atau dampak dari program (Patton, 1990, p. 172).
variasi sampling maksimum dapat menghasilkan deskripsi rinci dari setiap kasus, di samping untuk mengidentifikasi pola-pola bersama yang memotong kasus. Lihat Hoepfl (1994) untuk sebuah ilustrasi strategi ini diterapkan untuk pendidikan riset teknologi. Beberapa contoh studi kasus sampling juga dapat ditemukan dalam literatur pendidikan teknologi (lihat Brown, 1995; Hansen, 1995; dan Lewis, 1995 dan 1997)
Terlepas dari fleksibilitas tampak dalam purposive sampling, peneliti harus menyadari tiga jenis sampling error yang dapat timbul dalam penelitian kualitatif.Yang pertama berkaitan dengan distorsi yang disebabkan oleh luasnya kurang dalam sampling, yang kedua dari distorsi yang diperkenalkan oleh perubahan dari waktu ke waktu, dan yang ketiga dari distorsi yang disebabkan oleh kurangnya kedalaman dalam pengumpulan data pada setiap lokasi (Patton, 1990).
Teknik Pengumpulan Data
Dua bentuk yang berlaku pengumpulan data yang terkait dengan penyelidikan kualitatif adalah wawancara dan observasi.
Wawancara
wawancara kualitatif dapat digunakan baik sebagai strategi utama untuk pengumpulan data, atau dalam hubungannya dengan pengamatan, analisis dokumen, atau teknik lain (Bogdan dan Biklen, 1982). Wawancara kualitatif menggunakan pertanyaan terbuka yang memungkinkan untuk setiap variasi.Patton (1990) menulis tentang tiga jenis kualitatif wawancara: 1) informal, wawancara percakapan; 2)-wawancara semi terstruktur, dan 3) wawancara, standar terbuka.
Sebuah panduan wawancara atau "jadwal" adalah daftar pertanyaan atau topik umum yang pewawancara ingin menjelajahi selama wawancara masing-masing. Walaupun siap untuk memastikan bahwa pada dasarnya informasi yang sama diperoleh dari setiap orang, tidak ada tanggapan yang telah ditentukan, dan dalam wawancara semi-terstruktur pewawancara bebas untuk probe dan mengeksplorasi di daerah-daerah penyelidikan yang telah ditentukan. panduan Wawancara menjamin penggunaan baik waktu wawancara terbatas, mereka membuat mewawancarai beberapa mata pelajaran yang lebih sistematis dan komprehensif, dan mereka membantu untuk menjaga interaksi fokus. Sesuai dengan sifat fleksibel desain penelitian kualitatif, panduan wawancara dapat dimodifikasi dari waktu ke waktu untuk memusatkan perhatian pada area yang penting tertentu, atau untuk mengecualikan pertanyaan peneliti telah ditemukan untuk menjadi tidak produktif untuk tujuan penelitian (Lofland dan Lofland, 1984).
Merekam Data. Keputusan dasar memasuki proses wawancara adalah bagaimana untuk merekam data wawancara. Apakah seseorang mengandalkan catatan tertulis atau tape recorder tampaknya sebagian besar masalah preferensi pribadi. Sebagai contoh, Patton mengatakan bahwa tape recorder adalah "diperlukan" (1990, hal 348), sedangkan Lincoln dan Guba "tidak menganjurkan rekaman kecuali untuk alasan yang tidak biasa" (1985, hal 241). Lincoln dan Guba dasar rekomendasi mereka pada campur tangan perangkat rekaman dan kemungkinan kegagalan teknis. Rekaman memiliki keuntungan data menangkap lebih setia daripada buru-buru catatan tertulis mungkin, dan dapat membuat lebih mudah bagi peneliti untuk fokus pada wawancara.
Pengamatan
Bentuk klasik pengumpulan data atau bidang penelitian naturalistik adalah pengamatan peserta dalam konteks pemandangan alam. Data observasi digunakan untuk tujuan deskripsi-dari pengaturan, aktivitas, orang, dan makna dari apa yang diamati dari perspektif peserta. Pengamatan dapat menyebabkan pemahaman yang lebih dalam dari wawancara saja, karena memberikan pengetahuan tentang konteks di mana peristiwa terjadi, dan dapat memungkinkan peneliti untuk melihat hal-hal yang peserta sendiri tidak menyadari, atau bahwa mereka tidak mau membahas (Patton, 1990). Seorang pengamat terampil adalah orang yang terlatih dalam proses pemantauan baik dan nonverbal isyarat verbal, dan dalam penggunaan beton,, deskriptif bahasa ambigu. Sours '(1997) belajar mengajar dan belajar gaya memberikan contoh yang baik dari bahasa deskriptif diterapkan pada kelas teknologi.
Ada beberapa strategi pengamatan yang tersedia. Dalam beberapa kasus mungkin dan diinginkan bagi peneliti untuk menonton dari luar, tanpa diamati.Pilihan lain adalah untuk menjaga kehadiran pasif, yang seperti tidak mengganggu mungkin dan tidak berinteraksi dengan peserta. Strategi ketiga adalah untuk terlibat dalam interaksi terbatas, intervensi hanya ketika klarifikasi lebih lanjut tindakan yang diperlukan. Atau peneliti dapat melaksanakan lebih kontrol aktif pengamatan, seperti dalam kasus wawancara formal, untuk mendapatkan tipe tertentu informasi. Akhirnya, peneliti dapat bertindak sebagai peserta penuh dalam situasi tersebut, baik dengan atau dikenal identitas tersembunyi. Masing-masing strategi memiliki kelebihan khusus, kekurangan dan keprihatinan yang harus diperiksa dengan teliti oleh peneliti (Schatzman dan Strauss, 1973).
Kehadiran pengamat kemungkinan untuk memperkenalkan distorsi dari pemandangan alam yang peneliti harus sadar, dan bekerja untuk meminimalkan.keputusan kritis, termasuk sejauh mana peneliti identitas dan tujuan akan terungkap kepada peserta, lamanya waktu yang dihabiskan di lapangan, dan teknik observasi khusus yang digunakan, adalah sepenuhnya tergantung pada unik pertanyaan dan sumber daya yang dibawa untuk mempelajari masing-masing. Dalam hal apapun, peneliti harus mempertimbangkan dan etika tanggung jawab hukum yang berkaitan dengan observasi naturalistik.
Merekam Data. peneliti Bidang mengandalkan paling berat pada penggunaan catatan lapangan, yang telah berjalan dengan deskripsi setting, orang, aktivitas, dan suara. catatan lapangan mungkin termasuk gambar atau peta. Mengakui kesulitan menulis catatan lapangan yang luas selama observasi, Lofland dan Lofland (1984) merekomendasikan menuliskan catatan yang akan berfungsi sebagai alat bantu memori ketika catatan lapangan penuh dibangun. Ini harus terjadi segera setelah pengamatan mungkin, hari yang sama disukai. Selain catatan lapangan, peneliti dapat menggunakan foto, kaset video, dan kaset audio sebagai sarana akurat menangkap sebuah setelan.
Mendapatkan Akses dan Kewajiban Peneliti
Berdasarkan pengalaman mereka dengan penelitian naturalistik, Lofland dan Lofland (1984) percaya bahwa peneliti lebih mungkin untuk mendapatkan akses yang berhasil untuk situasi jika mereka menggunakan kontak yang dapat membantu menghilangkan hambatan untuk masuk, jika mereka menghindari 'responden membuang-buang waktu dengan melakukan terlebih dahulu penelitian untuk informasi yang sudah menjadi bagian dari catatan publik, dan jika mereka memperlakukan responden dengan sopan. Karena peneliti naturalistik meminta peserta untuk "memberikan akses bagi kehidupan mereka, pikiran mereka, [dan] emosi mereka," itu juga penting untuk menyediakan responden dengan deskripsi langsung dari tujuan penelitian (hal. 25).
Lainnya Sumber Data
Satu sumber informasi yang sangat berharga bagi peneliti kualitatif adalah analisis dokumen. Dokumen tersebut mungkin termasuk catatan resmi, surat, rekening koran, buku harian, dan laporan, serta data yang diterbitkan digunakan dalam kajian sastra. Dalam studi tentang guru teknologi dalam pelatihan, Hansen (1995) dianalisis entri jurnal dan memo yang ditulis oleh peserta, selain wawancara. Hoepfl (1994), di ruang kerjanya penutupan program pendidikan guru teknologi, laporan surat kabar digunakan, dokumen kebijakan universitas, dan evaluasi diri-data departemen, jika tersedia, untuk melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara.
Ada beberapa bentuk khusus dari penelitian kualitatif yang hanya mengandalkan pada analisis dokumen. Sebagai contoh, Gagel (1997) menggunakan proses yang dikenal sebagai pertanyaan hermeneutika untuk menyelidiki literatur pada kedua literasi dan teknologi. Patton (1990) memberikan gambaran yang baik dari berbagai orientasi teoritis yang menginformasikan menu "kaya kemungkinan alternatif dalam penelitian kualitatif" (hal. 65).
Memutuskan Kapan Berhenti Sampling
peneliti kualitatif memiliki beberapa pedoman yang ketat ketika untuk menghentikan proses pengumpulan data. Kriteria meliputi: 1) kelelahan sumber daya; 2) munculnya keteraturan, dan 3) overextension, atau pergi terlalu jauh melampaui batas-batas penelitian (Guba, 1978). Keputusan untuk menghentikan pengambilan sampel harus mempertimbangkan tujuan penelitian ini, kebutuhan untuk mencapai kedalaman melalui triangulasi sumber data, dan kemungkinan luasnya lebih besar melalui pemeriksaan berbagai situs sampling.
Analisa Data
Bogdan dan Biklen mendefinisikan analisis data kualitatif sebagai "bekerja dengan data, mengaturnya, melanggar ke dalam satuan dikelola, sintesa itu, mencari pola, menemukan apa yang penting dan apa yang akan dipelajari, dan memutuskan apa yang akan Anda memberitahu orang lain" (1982 , hal 145). peneliti kualitatif cenderung menggunakan analisis data induktif, yang berarti bahwa tema kritis muncul dari data (Patton, 1990); kualitatif. analisis beberapa membutuhkan kreativitas, untuk tantangan adalah menempatkan mentah data ke logis berarti, kategori untuk memeriksa mereka secara holistik, dan untuk menemukan cara untuk berkomunikasi interpretasi ini kepada orang lain.
Duduk untuk mengatur tumpukan data mentah bisa menjadi tugas menakutkan. Hal ini dapat melibatkan ratusan halaman transkrip wawancara, catatan lapangan dan dokumen. Mekanisme penanganan sejumlah besar data kualitatif dapat berkisar dari fisik pemilahan dan penyimpanan slip kertas untuk menggunakan salah satu dari beberapa program perangkat lunak komputer yang telah dirancang untuk membantu dalam tugas ini (lihat Brown, 1996, untuk penjelasan dari salah satu program).
Analisis dimulai dengan identifikasi tema yang muncul dari data mentah, proses kadang-kadang disebut sebagai "open coding" (Strauss dan Corbin, 1990).Selama open coding, peneliti harus mengidentifikasi dan ragu-ragu nama kategori konseptual di mana fenomena yang diamati akan dikelompokkan.Tujuannya adalah untuk membuat deskriptif, kategori multi dimensi yang membentuk kerangka kerja awal untuk analisis. Kata-kata, frase, atau peristiwa yang tampaknya serupa dapat dikelompokkan ke dalam kategori yang sama. Kategori ini dapat secara bertahap diubah atau diganti selama tahap berikutnya analisis yang mengikuti.
Sebagai data mentah dipecah menjadi potongan-potongan diatur, peneliti juga harus menyusun "jejak audit"-yaitu, skema untuk mengidentifikasi potongan-potongan data tersebut sesuai dengan pembicara dan konteksnya. Pengenal khusus dikembangkan mungkin atau tidak dapat digunakan dalam laporan penelitian, tapi speaker biasanya disebut dengan cara yang memberikan rasa konteks (lihat, misalnya, Brown, 1996; Duffee dan Aikenhead, 1992; dansours, 1997); Penelitian Kualitatif. laporan dicirikan dengan menggunakan "suara" dalam teks yang, peserta kutipan yang menggambarkan tema yang sedang dijelaskan.
Tahap berikutnya analisis melibatkan pemeriksaan ulang kategori yang diidentifikasi untuk menentukan bagaimana mereka terkait, proses yang rumit kadang-kadang disebut "axial coding" (Strauss dan Corbin, 1990). Kategori diskrit yang teridentifikasi dalam open coding dibandingkan dan dikombinasikan dalam baru cara sebagai peneliti mulai memasang "gambaran besar." Tujuan dari pengkodean adalah untuk tidak hanya menjelaskan tetapi yang lebih penting, untuk memperoleh pemahaman baru tentang fenomena yang menarik. Oleh karena itu, acara kausal berkontribusi terhadap fenomena tersebut; rincian deskriptif dari fenomena itu sendiri, dan konsekuensi dari fenomena yang diteliti semua harus diidentifikasi dan dieksplorasi. Selama aksial coding peneliti bertanggung jawab untuk membangun model konseptual dan untuk menentukan apakah ada data yang cukup untuk mendukung interpretasi itu.
Akhirnya, para peneliti harus menerjemahkan model konseptual ke dalam alur cerita yang akan dibaca oleh orang lain. Idealnya, laporan penelitian akan menjadi erat, tenun akun kaya yang "mendekati kenyataan itu mewakili" (Strauss dan Corbin, 1990, hal 57). Banyak kekhawatiran seputar penyajian laporan penelitian kualitatif dibahas dalam bagian "Melihat Penelitian Kualitatif" yang berikut.
Meskipun tahapan analisis dijelaskan di sini secara linear, dalam praktiknya mereka dapat terjadi secara bersamaan dan berulang-ulang. Selama aksial coding peneliti dapat menentukan bahwa kategori yang diidentifikasi awal harus direvisi, yang mengarah ke pemeriksaan ulang data mentah. Tambahan pengumpulan data dapat terjadi pada titik apapun jika peneliti menyingkap kesenjangan dalam data,. Bahkan informal, analisis data dimulai dengan pengumpulan dan dapat dan harus membimbing pengumpulan data berikutnya. Untuk rinci namun sangat dimengerti penjelasan lebih dari proses analisis, lihat Simpson dan Tuson (1995).
Produk Analisis Data Kualitatif
Dalam teks klasik mereka Penemuan Teori Beralas, Glaser dan Strauss (1967, /> a) menggambarkan apa yang mereka yakini menjadi tujuan utama penelitian kualitatif: generasi teori, bukan menguji teori atau deskripsi belaka. Menurut pandangan ini, teori bukan "produk disempurnakan" tetapi "-mengembangkan entitas yang pernah" atau proses (hal. 32). Glaser dan Strauss mengklaim bahwa salah satu sifat yang diperlukan teori grounded adalah bahwa hal itu menjadi "cukup umum dapat diterapkan pada banyak situasi yang beragam dalam wilayah substantif" (hal. 237).
Pendekatan grounded theory dijelaskan oleh Glaser dan Strauss merupakan bentuk yang agak ekstrim penyelidikan naturalistik. Hal ini tidak perlu bersikeras bahwa produk penyelidikan kualitatif menjadi teori yang akan berlaku bagi "banyak situasi yang beragam." Contoh dari pendekatan yang lebih fleksibel untuk penyelidikan kualitatif dapat diperoleh dari sejumlah sumber. Sebagai contoh, kedua Patton (1990) dan Guba (1978) menyatakan, dalam kata-kata yang sama, bahwa "penyelidikan naturalistik selalu soal gelar" dari sejauh mana peneliti pengaruh tanggapan dan memaksakan kategori pada data. Semakin "murni" penyelidikan naturalistik, pengurangan kurang dari data ke dalam kategori.
Gambar 1 menggambarkan salah satu interpretasi dari hubungan antara deskripsi, verifikasi, dan generasi teori-atau, dalam hal ini, perkembangan apa Cronbach (1975) menyebut "hipotesis kerja," yang menunjukkan suatu bentuk yang lebih penurut analisis dari kata " teori. " Menurut penafsiran ini, peneliti dapat bergerak antara titik pada deskripsi / kontinum verifikasi selama analisis, namun produk akhir akan jatuh pada satu titik tertentu, tergantung pada sejauh mana itu adalah naturalistik.


Gambar 1. Deskripsi, verifikasi dan generasi hipotesis kerja dalam penelitian kualitatif.
Sesuai dengan sikap naturalistik, peneliti mungkin menyimpulkan bahwa, sejauh bahwa temuan didasarkan pada informasi dari berbagai situasi yang beragam, mereka mungkin akan berlaku untuk area substantif yang lebih besar. Namun, penerapan mereka untuk situasi tertentu sepenuhnya tergantung pada kondisi situasi dan kegunaan dari temuan penelitian untuk pembaca individu.
Menilai Penelitian Kualitatif
Peran Reader yang
Mereka yang berada dalam posisi untuk menilai atau menggunakan temuan penyelidikan kualitatif harus memainkan berbagai jenis peran dari orang-orang yang meninjau penelitian kuantitatif. Hal ini karena "tidak ada kebenaran tes didefinisikan secara operasional dapat diterapkan untuk penelitian kualitatif" (Eisner, 1991, hal 53). Sebaliknya, peneliti dan pembaca "berbagi tanggung jawab bersama" untuk menetapkan nilai produk penelitian kualitatif (Glaser dan Strauss, 1967, hal 232). "Pragmatik validasi [penelitian kualitatif] berarti bahwa perspektif yang disajikan dinilai oleh relevansinya dengan dan digunakan oleh mereka yang itu disajikan: mereka perspektif dan tindakan bergabung untuk [peneliti] perspektif dan tindakan "(Patton, 1990, hal 485).
Eisner (1991) percaya bahwa tiga Berikut adalah beberapa fitur penelitian kualitatif harus dipertimbangkan oleh reviewer:
Coherence: Apakah cerita itu masuk akal? Bagaimana kesimpulan telah didukung? Sejauh mana memiliki beberapa sumber data digunakan untuk memberi kepercayaan kepada interpretasi yang telah dibuat? (Hal. 53).
Terkait dengan koherensi adalah gagasan tentang "menguatkan struktural," juga dikenal sebagai triangulasi (hal. 55).
Konsensus: Kondisi di mana para pembaca sebuah karya setuju bahwa temuan dan / atau interpretasi yang dilaporkan oleh penyidik konsisten dengan pengalaman mereka sendiri atau dengan bukti yang ditunjukkan (hal. 56).
Akhirnya, peninjau harus menilai laporan:
Instrumental Utility: The Tes yang paling penting dari setiap penelitian kualitatif kegunaannya. Sebuah studi kualitatif yang baik dapat membantu kita memahami situasi yang seharusnya dapat membingungkan atau membingungkan (hal. 58).
Sebuah studi yang baik dapat membantu kita mengantisipasi masa depan, bukan dalam arti prediksi kata, tapi sebagai semacam peta jalan atau petunjuk ". Guides" kami memperhatikan aspek-aspek dari situasi atau tempat mungkin kita dinyatakan kehilangan (Eisner, 1991 , p. 59).
Menangani Keandalan dalam Penelitian Kualitatif
Pertanyaan mendasar yang disampaikan oleh pengertian dapat dipercaya, menurut Lincoln dan Guba, sederhana: "Bagaimana seorang penyelidik membujuk atau dia pendengarnya bahwa temuan penelitian dari penyelidikan patut memperhatikan?" (1985, hal 290). Ketika pekerjaan kualitatif menghakimi, Strauss dan Corbin (1990) percaya bahwa "kanon biasa 'ilmu baik' ... memerlukan redefinisi dalam rangka cocok dengan realitas dari penelitian kualitatif" (hal. 250). Lincoln dan Guba (1985, p . 300) telah mengidentifikasi satu alternatif seperangkat kriteria yang sesuai dengan yang biasanya digunakan untuk menilai kerja kuantitatif (lihat Tabel 1).
Tabel 1
Perbandingan kriteria untuk menilai kualitas penelitian kuantitatif versus kualitatif
Istilah Konvensional Naturalistik istilah
validitas internal Kredibilitas
validitas eksternal sifat dpt dipindahkan
keandalan Keteguhan
objektivitas Konfirmabilitas
Smith dan Heshusius (1986) tajam mengkritik para penulis, seperti Lincoln dan Guba, yang mereka yakini telah mengadopsi sikap dari "detente" dengan rasionalis. Mereka sangat marah oleh dan Guba gunanya Lincoln "kriteria sebanding," yang ke mata mereka terlihat sedikit berbeda dari kriteria konvensional mereka seharusnya menggantikan. Dalam kedua kasus, harus ada "kepercayaan pada asumsi bahwa apa yang dikenal-baik itu kenyataan yang ada atau ditafsirkan realitas-berdiri independen penyelidik dan dapat dijelaskan tanpa distorsi oleh penanya" (hal. 6). Smith dan Heshusius mengklaim bahwa penelitian naturalistik dapat hanya menawarkan sebuah "interpretasi dari interpretasi orang lain," dan bahwa untuk mengasumsikan sebuah realitas independen adalah "tidak dapat diterima" bagi peneliti kualitatif (hal. 9).
sikap mereka adalah satu kuat, karena satu-satunya realitas itu menerima adalah pikiran tergantung pada satu sepenuhnya, yang akan bervariasi dari individu ke individu, dalam kata lain, untuk Smith dan Heshusius, tidak ada "di luar sana" di luar sana. Untuk peneliti, tidak mungkin untuk memilih interpretasi terbaik dari antara yang tersedia, karena tidak ada teknik atau interpretasi dapat "epistemologis istimewa" (hal. 9). Untuk mempertahankan posisi ini tampaknya akan meniadakan nilai melakukan penelitian sama sekali, karena melarang kemungkinan mendamaikan interpretasi alternatif.
Oleh karena itu, penting untuk menentukan kriteria konsisten dengan paradigma naturalistik, namun yang memungkinkan untuk suatu pernyataan bahwa "ilmu yang baik" telah dilakukan. Pada bagian berikut, dan naturalistik kriteria konvensional akan dibahas, dengan tujuan memilih kriteria yang sesuai untuk menilai kepercayaan keseluruhan penelitian kualitatif.
Validitas Internal versus Kredibilitas
Dalam penyelidikan konvensional, validitas internal mengacu pada sejauh mana temuan akurat menggambarkan realitas (. Lincoln dan Guba1985) menyatakan bahwa "penentuan isomorfisma tersebut pada prinsipnya tidak mungkin" (hal. 294), karena salah satu harus mengetahui "sifat yang tepat dari realitas" dan, jika satu tahu ini sudah, tidak akan ada perlu mengujinya (hal. 295). Peneliti konvensional harus mendalilkan hubungan dan kemudian menguji mereka, postulat tidak dapat dibuktikan, tetapi hanya memalsukan cukup. Naturalistik Peneliti, di lain pihak, mengasumsikan adanya beberapa realitas dan upaya untuk mewakili beberapa realitas ini. Kredibilitas menjadi tes untuk ini.
Kredibilitas kurang tergantung pada ukuran sampel dari pada kekayaan informasi yang dikumpulkan dan pada kemampuan analitis peneliti (Patton, 1990).Hal ini dapat ditingkatkan melalui triangulasi data. Patton mengidentifikasi empat tipe triangulasi: 1) metode triangulasi; 2) triangulasi data; 3) triangulasi melalui beberapa analis, dan 4) triangulasi teori. Teknik lainnya untuk mengatasi kredibilitas meliputi pembuatan segmen data baku yang tersedia bagi orang lain untuk menganalisis, dan penggunaan "cek anggota," di mana responden diminta untuk menguatkan temuan (Lincoln dan Guba, 1985, hal 313-316).
Validitas Eksternal / generalisasi versus transfer
Dalam penelitian konvensional, validitas eksternal mengacu pada kemampuan untuk menggeneralisasi temuan di setting yang berbeda. Membuat generalisasi mencakup trade-off antara dan eksternal validitas internal (Lincoln dan Guba, 1985). Artinya, dalam rangka untuk membuat pernyataan digeneralisasikan yang berlaku untuk banyak konteks, kita bisa hanya mencakup aspek-aspek terbatas dari setiap konteks lokal.
Lincoln dan Guba (1985) mengakui bahwa generalisasi adalah "sebuah konsep menarik," karena memungkinkan kemiripan prediksi dan kontrol atas situasi (hal. 110-111). Namun mereka berpendapat bahwa adanya kondisi lokal "membuat tidak mungkin untuk menggeneralisasi" (hal. 124). Cronbach (1975) membahas masalah tersebut dengan mengatakan:
Masalahnya, seperti yang saya lihat, adalah bahwa kita tidak dapat menyimpan hingga generalisasi dan konstruksi untuk perakitan akhir ke jaringan. Seolah-olah kita membutuhkan kotor sel kering untuk tenaga mesin dan hanya bisa membuat satu bulan. Energi yang akan bocor keluar dari sel pertama sebelum kami setengah selesai baterai (hal. 123).
Menurut Cronbach, "ketika kita memberikan bobot yang tepat untuk kondisi lokal, setiap generalisasi adalah hipotesis kerja, bukan kesimpulan" (hal. 125).
Dalam paradigma naturalistik, dengan transfer dari hipotesis kerja untuk situasi lain tergantung pada tingkat kesamaan antara situasi asli dan situasi untuk yang ditransfer. Peneliti tidak dapat menentukan pengalihan temuan; ia hanya dapat memberikan informasi yang memadai yang kemudian dapat digunakan oleh pembaca untuk menentukan apakah temuan berlaku untuk situasi baru (Lincoln dan Guba, 1985) untuk lain. penulis yang sama menggunakan bahasa menggambarkan transfer, jika bukan kata itu sendiri. Sebagai contoh, Stake (1978) merujuk pada apa yang ia sebut "generalisasi naturalistik" (hal. 6).Patton menunjukkan bahwa "ekstrapolasi" adalah istilah yang tepat untuk proses ini (1990, hal 489). Eisner mengatakan itu merupakan bentuk dari "generalisasi retrospektif" yang dapat memungkinkan kita untuk memahami masa lalu kita (dan masa depan) pengalaman dengan cara yang baru (1991, hal 205).
Keandalan versus Ketergantungan
Kirk dan Miller (1986) mengidentifikasi tiga jenis keandalan sebagaimana dimaksud dalam penelitian konvensional, yang berhubungan dengan: 1) sejauh mana suatu pengukuran, diberikan berulang kali, tetap sama, 2) stabilitas pengukuran dari waktu ke waktu, dan 3) kesamaan pengukuran dalam jangka waktu tertentu (hal. 41-42). Mereka mencatat bahwa "isu-isu reliabilitas telah menerima sedikit perhatian" dari para peneliti kualitatif, yang bukan fokus pada pencapaian validitas yang lebih besar dalam pekerjaan mereka (hal. 42). Meskipun mereka memberikan beberapa contoh bagaimana keandalan mungkin dipandang dalam pekerjaan kualitatif, esensi dari contoh ini dapat diringkas dalam pernyataan berikut oleh Lincoln dan Guba (1985): "Karena tidak mungkin ada validitas tanpa reliabilitas (dan dengan demikian tidak ada kredibilitas tanpa ketergantungan), demonstrasi mantan cukup untuk menetapkan kedua "(hal. 316).
Namun demikian, Lincoln dan Guba melakukan mengusulkan salah satu ukuran yang mungkin meningkatkan keandalan penelitian kualitatif. Itu adalah penggunaan "audit penyelidikan," di mana tinjauan menguji kedua proses dan hasil penelitian untuk konsistensi (1985, hal 317).
Objektivitas versus konfirmabilitas
kebijaksanaan konvensional mengatakan bahwa penelitian yang bergantung pada ukuran kuantitatif untuk menentukan situasi relatif bebas nilai, dan karena itu objektif. penelitian kualitatif, yang mengandalkan interpretasi dan juga diakui sebagai nilai-terikat, dianggap subjektif. Dalam dunia penelitian konvensional, subjektivitas mengarah pada hasil yang baik tidak dapat diandalkan dan tidak valid. Ada banyak peneliti, bagaimanapun, yang mempertanyakan objektivitas benar tindakan statistik dan, memang, kemungkinan pernah mencapai objektivitas murni sama sekali (Lincoln dan Guba, 1985; Eisner, 1991).
Patton (1990) berpendapat bahwa istilah objektivitas dan subjektivitas telah menjadi "amunisi ideologis dalam perdebatan paradigma." Dia lebih suka "menghindari menggunakan kata baik dan tetap keluar dari perdebatan sia-sia tentang subjektivitas versus objektivitas. "Sebaliknya, ia berusaha untuk" netralitas empati "(hal. 55). Meskipun mengakui bahwa kedua kata tampaknya bertentangan, menunjukkan Patton keluar empati bahwa "adalah sikap terhadap orang satu pertemuan, sementara netralitas adalah sikap terhadap temuan" (hal. 58). Seorang peneliti yang netral mencoba menjadi tidak menghakimi, dan berusaha untuk melaporkan apa yang ditemukan secara seimbang.
Lincoln dan Guba (1985) memilih untuk berbicara tentang "konfirmabilitas" penelitian ". sebuah Dalam arti, mereka mengacu pada derajat yang peneliti dapat menunjukkan netralitas penelitian interpretasi, melalui konfirmabilitas" audit. Ini berarti memberikan jejak audit yang terdiri dari 1) data mentah; 2) catatan analisis;) rekonstruksi dan sintesis produk 3; 4) catatan proses; 5) catatan pribadi, dan 6) informasi perkembangan awal (hal. 320 -321).
Berkenaan dengan obyektivitas dalam riset kualitatif, mungkin berguna untuk menghidupkan ke Phillips (1990), yang mempertanyakan apakah ada benar-benar banyak perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif:
pekerjaan buruk sejenis baik sama akan menyesalkan, dan bekerja baik, baik secara masih-terbaik-hanya tentatif. Tapi baik bekerja di kedua kasus secara obyektif, dalam arti bahwa ia telah dibuka untuk kritik, alasan dan bukti yang ditawarkan pada kedua kasus akan bertahan dicermati serius. Karya-karya akan menghadapi bantahan potensial, dan sejauh mereka telah selamat, mereka akan dianggap sebagai layak penyelidikan lebih lanjut (hal. 35).
Diskusi dan Kesimpulan
Pada peningkatan minat penelitian kualitatif dalam beberapa tahun terakhir waran pemahaman dasar paradigma ini pada bagian dari semua pendidikan peneliti teknologi. Ini gambaran umum metode penelitian kualitatif dan masalah merupakan titik awal hanya untuk mereka yang tertarik menggunakan dan / atau meninjau penelitian kualitatif. Pembaca dapat memilih dari tubuh tumbuh literatur tentang topik untuk panduan lebih lanjut.
Keputusan untuk menggunakan metodologi kualitatif harus dipertimbangkan secara hati-hati; sifatnya, penelitian kualitatif dapat secara emosional berat dan sangat memakan waktu. Pada saat yang sama, dapat menghasilkan informasi yang kaya tidak mungkin diperoleh melalui teknik sampling statistik.
Di masa lalu, mahasiswa pascasarjana merenungkan menggunakan penyelidikan kualitatif diberitahu bahwa mereka harus "menjual" ide untuk anggota komite penelitian mereka, yang mungkin akan memandang penelitian kualitatif sebagai lebih rendah daripada penelitian kuantitatif. Untungnya, di universitas paling bahwa kepercayaan telah berubah, ke titik di mana penelitian kualitatif adalah paradigma pilihan di beberapa sekolah. Meskipun penerimaan ini berkembang, para peneliti baru masih dapat menghadapi kesulitan dalam menemukan penasihat fakultas yang terampil dalam jenis penelitian.
peneliti kualitatif memiliki tanggung jawab khusus untuk mata pelajaran mereka dan pembacanya. Karena tidak ada uji statistik untuk signifikansi dalam penelitian kualitatif, peneliti menanggung beban menemukan dan menafsirkan pentingnya apa yang diamati, dan membangun hubungan yang masuk akal antara apa yang diamati dan kesimpulan yang diambil dalam laporan penelitian. Untuk melakukan semua ini terampil memerlukan pemahaman yang solid tentang paradigma penelitian dan, idealnya, praktek dipandu dalam penggunaan pengamatan kualitatif dan teknik analisis.
Ada banyak desain penelitian yang berguna, seleksi yang tergantung pada pertanyaan penelitian yang diminta. Yang paling penting, pendidik teknologi harus bangkit untuk menantang untuk menemukan dan menggunakan ketat, teknik penelitian yang sesuai yang membahas pertanyaan penting menghadap lapangan.


Referensi
Bogdan, RC, & Biklen, SK (1982). penelitian kualitatif untuk pendidikan: Suatu pengantar teori dan metode. Boston: Allyn dan Bacon, Inc
Brown, DC (1996). Mengapa bertanya mengapa: pola dan tema dari atribusi kausal di tempat kerja. Journal of Industrial Pendidikan Guru, 33(4), 47-65.
Cronbach, LJ (1975, Februari). Di luar dua disiplin ilmu psikologi ilmiah. Amerika Psikolog, 30(2), 116-127.
Duffee, L., & Aikenhead, G. (1992). Kurikulum berubah, evaluasi siswa, dan praktis pengetahuan guru. Ilmu Pendidikan, 76(5), 493-506.
Eisner, EW (1991). Mata tercerahkan: penyelidikan kualitatif dan peningkatan praktik pendidikan. New York, NY: Macmillan Publishing Company.
Gagel, C. (1997). Melek dan teknologi: refleksi dan wawasan untuk keaksaraan teknologi. Journal of Industrial Pendidikan Guru, 34(3), 6-34.
Glaser, BG, & Strauss, AL (1967). Penemuan grounded theory. Chicago, IL: Perusahaan Penerbitan Aldine.
Greene, CK (1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan perempuan untuk bekerja di perdagangan. Disertasi Abstrak International,56(2), 524a.
Guba, EG (1978). Menuju metodologi inkuiri naturalistik dalam evaluasi pendidikan. Monografi 8. Los Angeles: UCLA Pusat Studi Evaluasi.
Hansen, RE (1995). Guru sosialisasi dalam pendidikan teknologi. Jurnal Teknologi Pendidikan, 6(2), 34-45.
Hoepfl, M. (1994). Penutupan guru program pendidikan teknologi: faktor yang mempengaruhi keputusan penghentian.Morgantown, WV: diterbitkan disertasi doktor.
Johnson SD (1995, Spring). Apakah penelitian kita tahan di bawah pengawasan? Jurnal Pendidikan Guru Industri, 32(3), 3-6.
Kirk, J., & Miller, ML (1986). Reliabilitas dan validitas dalam penelitian kualitatif. Beverly Hills: Sage Publications.
Lewis, T. (1997). Dampak teknologi pada pekerjaan dan pekerjaan dalam industri percetakan - implikasi untuk kurikulum kejuruan. Journal of Industrial Pendidikan Guru, 34(2), 7-28.
Lewis, T. (1995). Di dalam tempat kerja keaksaraan inisiatif tiga: kemungkinan dan batas-batas lembaga kejuruan. Journal of Industrial Pendidikan Guru, 33(1), 60-82.
Lincoln, YS, dan Guba, EG (1985). Naturalistik penyelidikan. Beverly Hills, CA: Sage Publications, Inc
Lofland, J., & Lofland, LH (1984). Menganalisis pengaturan sosial. Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company, Inc
Patton, MQ (1990). Evaluasi kualitatif dan Metode Penelitian (2nd ed.). Newbury Park, CA: Sage Publications, Inc
Phillips, DC (1990). Subjektivitas dan objektivitas: Sebuah penyelidikan objektif. Dalam Eisner dan Peshkin (Eds.) pertanyaan kualitatif dalam pendidikan: Perdebatan terus (hal. 19-37). New York: Guru Tekan College.
Russek, BE, & Weinberg, SL (1993). metode campuran dalam studi penerapan teknologi berbasis bahan di kelas SD. Evaluasi dan Perencanaan Program, 16(2), 131-142.
Schatzman, L., & Strauss, AL (1973). Bidang penelitian. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc
Simpson, M., & Tuson, J. (1995). observasi Menggunakan skala dalam penelitian kecil: Panduan pemula. Edinburgh: Dewan Skotlandia untuk Penelitian dalam Pendidikan. ERIC Dokumen 394991.
Smith, JK, & Heshusius, L. (1986, Januari). Menutup percakapan: akhir kuantitatif kualitatif perdebatan di kalangan-pendidikan. Inquirers Para Peneliti Pendidikan, 15(1), 4-12.
Sours, JS (1997). Sebuah analisis deskriptif pembelajaran pendidikan gaya teknis. University of Arkansas: Tidak diterbitkan disertasi doktor.
Stake, RE (1978, Februari). Studi kasus Metode dalam penyelidikan sosial. Pendidikan Peneliti, 7(2), 5-8.
Stallings, WM (1995, April). Pengakuan dari seorang peneliti kuantitatif pendidikan mencoba untuk mengajar riset kualitatif. Pendidikan Peneliti, 24(3), 31-32.
Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Dasar-dasar penelitian kualitatif: teori Beralas prosedur dan teknik. Newbury Park, CA: Sage Publications, Inc
Waetjen, WB (1992, Juni). Membentuk masa depan profesi. Scottsdale, AZ: Paper disajikan pada Simposium Camelback Yayasan Teknis Amerika.
Zuga, KF (1994). pendidikan teknologi Pelaksana: Sebuah tinjauan dan sintesis dari literatur penelitian. Columbus, OH: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kerja.
________________________________________
Hoepfl Marie adalah Asisten Profesor di Departemen Teknologi di Appalachian State University, Boone, NC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar