Jumat, 17 April 2015

PEDOMAN PENELITIAN KUALITATIF


2
PENELITIAN KUALITATIF

A. Pengantar

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mempunyai pandangan  bahwa fokus penelitian adalah kualitas makna–meanings (hakikat dan esensi), akar filsafat yang dianut adalah pada asumsi bahwa: realitas adalah subjektif dan jamak seperti yang ada pada individu-individu partisipan yang diteliti (asumsi ontologis), peneliti berusaha melakukan pendekatan dengan partisipan dalam pengumpulan data (asumsi epistemologis), peneliti lebih mengutamakan perspektif partisipan (emik) daripada perspektif peneliti (etik), menggunakan gaya penulisan naratif, penggunaan istilah/terminologi kualitatif, dan batasan definisi-definisi yang digunakan (asumsi retorika), menggunakan logika induktif, bekerja secara rinci, deskripsi rinci tentang konteks studi yang diteliti, dan disain penelitian fleksibel/dapat berubah (asumsi metodologis) ( John W. Creswell: 2007, p.17). 

Terdapat lima ciri utama penelitian kualitatif, yaitu:

a)    Naturalistik. Penelitian kualitatif memiliki latar actual sebagai sumber langsung data dan peneliti merupakan instrumen kunci. Peneliti masuk dan menghabiskan waktu di latar penelitian (misal sekolah, keluarga, kelompok masyarakat, dan lokasi-lokasi lain) untuk mempelajari setiap aspek yang menjadi fokus penelitian. Peneliti melengkapi peralatan video tape dan peralatan perekam, meskipun ada yang berpendapat bahwa peneliti kualitatif tidak sepenuhnya memperlengkapi peralatan tersebut kecuali izin dan tambahan pemahaman tentang aspek-aspek penelitian yang akan diperoleh di lokasi.

b)    Data Deskriptif. Penelitian kualitatif adalah deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar dari pada angka-angka. Hasil penelitian tertulis berisi kutipan-kutipan dari data untuk mengilustrasikan dan menyediakan bukti presentasi. Data tersebut mencakup transkrip wawancara, catatan lapangan, fotografi, videotape, dokumen pribadi, memo, dan rekaman-rekaman resmi lainnya. Untuk memperoleh pemahaman, peneliti kualitatif tidak mereduksi halaman demi halaman dari narasi dan data lain ke dalam simbol-simbol numerik. Mereka mencoba menganalisis data dengan segala kekayaannya sedapat dan sedekat mungkin dengan bentuk rekaman dan transkripnya.

c)    Sangat Memperhatikan Proses. Peneliti kualitatif lebih berkonsentrasi pada proses dari pada dengan hasil atau produk. Bagaimana orang melakukan negosiasi makna? Bagaimana istilah-istilah atau label-label tertentu muncul untuk diaplikasikan? Bagaimana pemikiran-pemikiran tertentu datang untuk diambil menjadi bagian dari apa yang dikenal sebagai pengertian umum (Common sense)? Apa riwayat alami dari aktivitas atau peristiwa yang diteliti?

d)    Induktif. Peneliti kualitatif cenderung menganalisis data mereka secara induktif. Mereka tidak melakukan pencarian di luar data atau bukti untuk menolak atau menerima hipotesis yang mereka ajukan sebelum pelaksanaan penelitian. Teori yang dikembangkan dengan cara ini muncul dari bawah ke atas (bukan dari atas ke bawah), dari banyak bukti yang berbeda yang terkumpul yang saling berhubungan. Teori dibangun berdasarkan  pada data dari bawah/partisipan. Sebagai seorang peneliti kualitatif merencanakan dan mengembangkan: a) berapa jenis teori tentang apa yang  telah diteliti, b) arah yang akan dituju, setelah mengumpulkan data, dan c) peneliti berinteraksi dengan subjek penelitian.

e)    Makna. Makna adalah kepedulian yang esensial pada pendekatan kualitatif. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini tertarik pada bagaimana orang membuat pengertian tentang kehidupan mereka. Dengan kata lain, peneliti kualitatif peduli dengan apa yang disebut perspektif partisipan. Mereka memfokuskan pada pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa asumsi yang dibuat orang tentang kehidupan mereka? Apa pandangan-pandangan tentang bagaimana menjalani kehidupan? Bagaimana menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan? Dalam sebuah penelitian pendidikan misalnya, peneliti memfokuskan pada  perspektif orang tua tentang pendidikan anak-anak mereka. Peneliti ingin mengetahui apa pendapat orang tua tentang mengapa anak-anak mereka tidak dapat melakukan hal-hal yang terbaik di sekolah. (Bogdan dan Biklen, 2008: 4-8).

B. Sistematika

Halaman judul
Lembar persetujuan
Lembar pengesahan
Lembar pernyataan keaslian
Abstrak
Abstract
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar tabel dan gambar

BAB I  PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
B.   Fokus Penelitian
C.     Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
D.     Tujuan Penelitian
E.     Kegunaan Penelitian

BAB II  LANDASAN TEORI
A.     Deskripsi Konseptual Fokus Penelitian
B.     Kerangka Pemikiran

BAB III  PROSEDUR PENELITIAN
A.     Tempat dan Waktu Penelitian
B.     Metode Penelitian
C.     Prosedur Analisis Data

BAB IV  HASIL  PENELITIAN
A.     Gambaran Umum tentang Lokus Penelitian
B.     Temuan Penelitian

BAB V  SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.     Simpulan
B.     Rekomendasi


DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Observasi
Lampiran 2 Pedoman wawancara
Lampiran 3 Catatan Lapangan Hasil Observasi
Lampiran 4 Catatan Lapangan Hasil Wawancara
Lampiran 5 Dokumen Pendukung (Foto dan dokumen)
Lampiran 6 Hasil Analisis Data


C.    Penjelasan Isi Sistematika

BAB I  PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Peneliti menguraikan konteks atau situasi yang mendasari munculnya permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Konteks permasalahan bisa berupa tinjauan historis, ekonomi, sosial, dan kultural. Penggambaran konteks permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan menunjukkan fenomena-fenomena, fakta-fakta empiris atau kejadian aktual dan unik yang terjadi di masyarakat yang sudah terpublikasikan melalui media massa, buku-buku, hasil-hasil penelitian sebelumnya, atau sumber lainnya. Peneliti dapat juga menyertakan data statistik untuk menunjukkan aktualitas dan trend atau perkembangan fenomena yang menjadi latar belakang masalah penelitian. Peneliti dapat juga menyertakan hasil studi pendahulu (pre-eliminary study) atas fenomena tertentu yang berupa data kuantitatif ataupun kutipan wawancara. Bagian latar belakang masalah ini sebaiknya diakhiri dengan batasan yang dibuat oleh peneliti berkaitan dengan fenomena, fakta empiris, ataupun kejadian aktual yang sudah dipaparkan sebelumnya. Batasan atas fenomena tersebut diharapkan dapat mengantarkan peneliti menuju fokus penelitian yang akan diteliti sekaligus menunjukkan penting dan menariknya permasalahan tersebut.

B.  Fokus Penelitian
Peneliti menetapkan fokus penelitian, yaitu area sepesifik yang akan diteliti. Setelah fokus ditentukan, selanjutnya ditetapkan sudut tinjauan dari fokus tersebut sebagai sub-sub fokus penelitian.

C.   Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk kalimat tanya yang bersifat umum (grand tour question) sebagai pertanyaan payung. Kemudian rumusan masalah ini dikembangkan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sepesifik (research question) sesuai dengan sub-sub fokus penelitian.

D.    Tujuan Penelitian
Penelitian menjelaskan tujuan penelitian yaitu untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fokus dan subfokus penelitian.
  
E.     Kegunaan Penelitian
Peneliti menjelaskan manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian. Kegunaan dapat diklasifikasikan menjadi kegunaan teoretis dan kegunaan praktis. Kegunaan teoretis adalah bagaimana hasil penelitian menjadi bagian dari proses pengembangan ilmu. Manfaat praktis adalah bagaimana hasil penelitian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupan khususnya bidang pendidikan.

BAB II  LANDASAN TEORI

A.   Deskripsi Konseptual Fokus Penelitian
Peneliti mendeskripsikan konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan penelitian yang berhubungan dengan fokus dan subfokus penelitian. Konsep tersebut didasarkan pada tinjauan pustaka dari berbagai buku dan jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian. Deskripsi konseptual ini diperlukan untuk memberikan gambaran tentang fokus penelitian dan bagaimana fokus penelitian dikembangkan menjadi subfokus penelitian.

B.   Kerangka Pemikiran
Peneliti menjelaskan hal-hal yang menjadi pemikiran penulis tentang fokus penelitian yang akan diungkap secara empirik sekaligus peneliti mencoba membuat alur pikir keterkaitan teori yang telah dikaji dengan fokus penelitian sehingga memberikan gambaran sudut pandang peneliti terhadap rumusan masalah yang ingin ditelitinya. Peneliti minimal menjadikan 1 teori atau konsep yang dijadikan guide penelitian

BAB III  PROSEDUR PENELITIAN

A.     Tempat dan Waktu Penelitian
Peneliti menjelaskan di mana penelitian dilakukan dan kapan penelitian itu dilakukan. Waktu penelitian adalah sejak melakukan observasi awal sebagai persiapan penulisan proposal sampai dengan penulisan laporan penelitian. Khusus penelitian analisis isi tidak terikat dengan tempat tertentu.

B.   Metode Penelitian
Peneliti menjelaskan pendekatan dan metode penelitian yang digunakan serta prosedur pelaksanaannya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, sedangkan metode penelitian sesuai dengan jenis penelitian kualitatif yang digunakan. Peneliti menjelaskan informasi atau data yang dikumpulkan sehubungan dengan fokus dan subfokus penelitian. Kemudian dijelaskan pula sumber-sumber data primer maupun sekunder yang digunakan dalam penelitian baik informan, peristiwa, maupun dokumen. Peneliti menjelaskan teknik dan prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data yang meliputi: (1) observasi, (2) wawancara,  (3) dokumen, dan (4) focus group discution.

C.   Prosedur Analisis Data
Peneliti menjelaskan prosedur analisis data, baik selama proses pengumpulan data maupun setelah data terkumpul. Prosedur analisis dapat menggunakan salah satu dari model-model analisis data kualitatif yang sesuai dengan jenis (metode) penelitian kualitatif yang digunakan (model Milles & Hubberman, Spraedly, Bogdan & Biklen, Strauss & Corbin, Yin, atau Analisis Isi). Peneliti pun menjelaskan bagaimana menguji keabsahan data mencakup kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan konfirmabilitas.
Kredibilitas (Credibility). Kredibilitas merupakan penetapan hasil penelitian kualitatif yang kredibel atau dapat dipercaya dari perspektif partisipan dalam penelitian tersebut. Karena dari perspektif ini tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mendeskripsikan atau memahami fenomena yang menarik perhatian dari sudut pandang partisipan. Partisipan adalah satu-satunya orang yang dapat menilai secara sah kredibilitas hasil penelitian tersebut. Strategi untuk meningkatkan kredibilitas data meliputi perpanjangan pengamatan, ketekunan penelitian, triangulasi, diskusi teman sejawat, analisis kasus negatif, dan memberchecking.
Transferabilitas (Transferability). Transferabilitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif untuk  dapat digeneralisasikan atau ditransfer pada konteks atau setting yang lain. Dari sebuah perspektif kualitatif transferabilitas merupakan tanggung jawab seseorang dalam melakukan generalisasi. Peneliti kualitatif dapat meningkatkan transferabilitas dengan melakukan suatu pekerjaan mendeskripsikan konteks penelitian dan asumsi-asumsi yang menjadi sentral pada penelitian tersebut. Orang yang ingin mentransfer hasil penelitian pada konteks yang berbeda bertanggung jawab untuk membuat keputusan tentang bagaimana transfer tersebut masuk akal.
Dependabilitas (Dependability). Dependabilitas menekankan perlunya peneliti untuk memperhitungkan konteks yang berubah-ubah dalam penelitian yang dilakukan. Peneliti bertanggung jawab menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam setting dan bagaimana perubahan-perubahan tersebut dapat mempengaruhi cara pendekatan penelitian dalam studi tersebut.
Konfirmabilitas (Confirmability). Konfirmabilitas atau objektivitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian yang dikonfirmasikan oleh orang lain. Terdapat sejumlah strategi untuk meningkatkan konfirmabilitas. Peneliti dapat mendokumentasikan prosedur untuk mengecek dan mengecek kembali seluruh data penelitian. Peneliti lain dapat mengambil suatu peran “devil’s advocate” terhadap hasil penelitian, dan proses ini dapat didokumentasikan. Peneliti secara aktif dapat menelusuri dan mendeskripsikan contoh-contoh negatif yang bertentangan dengan pengamatan sebelumnya.


BAB IV  HASIL  PENELITIAN

A.   Gambaran Umum tentang Lokus Penelitian
Peneliti menguraikan tentang latar sosial, historis, budaya, ekonomi, demografi, lingkungan, sebagai gambaran umum penelitian yang melatari temuan penelitian.

B.   Temuan Penelitian
Peneliti mendeskripsikan hasil analisis dan temuan penelitian sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.
a.     Subfokus 1
b.     Subfokus 2
c.      Subfokus 3
d.     Subfokus 4
e.     Subfokus 5
f.      Subfokus dst.

BAB V  KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Peneliti menuliskan kesimpulan penelitian yang berisi proposisi-proposisi atau tema-tema sebagai hasil interpretasi atau verifikasi temuan dengan konsep-konsep dan teori-teori yang sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian. 

B.   Rekomendasi
Peneliti mengemukakan rekomendasi tentang perlunya penelitian lanjutan dan implementasi temuan penelitian tersebut dalam pemecahan masalah praktis.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran 1  Pedoman Observasi
Lampiran 2  Pedoman wawancara
Lampiran 3  Catatan Lapangan Hasil Observasi
Lampiran 4  Catatan Lapangan Hasil Wawancara
Lampiran 5  Dokumen Pendukung (Foto dan dokumen)
Lampiran 6  Hasil Analisis Data

D. Proposal Penelitian Kualitatif

Proposal penelitian adalah penjelasan singkat dari peneliti mengenai rencana penelitian yang akan dilakukan. Proposal terdiri dari unsur-unsur berikut :

   Halaman Cover
   Lembar Pengesahan
A.   Judul
B.   Latar Belakang Penelitian
C.   Rumusan Masalah (Fokus Penelitian)
D.   Tujuan Penelitian
E.    Teori dan Konsep Yang Digunakan (Minimal 1 Teori Yang Dijadikan Guide Penelitian)
F.    Kerangka Pemikiran
G.   Prosedur Penelitian
H.   Daftar Pustaka. 
I.     Outline Penelitian (pada lembar tersendiri)

Proposal tediri dari  8-12 halaman, spasi 1,5 line, huruf time new roman 12 , ukuran kertas A4 70 gram dengan margin 2,5 cm. Proposal dilengkapi dengan lembar pengesahan dari PPKI dan tidak diperkenankan dijilid.



ART AND DESIGN PRIMARY SCHOOLS

Overview
The overall quality of provision in art and design is good in over half of schools but varies widely. A key factor in this is subject leadership, which, when clearly defined and supported, is often associated with pupils’ well developed subject skills. Very good work is also linked to flexible use of curriculum time and creative use of space.
Work with an inspiring adult (teacher, artist, teaching assistant or parent) and visits to museums and galleries continue to underpin excellent work, although they are rarely planned as an entitlement for all pupils.
Weaker or inconsistent provision is found where teachers have had few opportunities to develop their subject knowledge and skills; for example, being dependent on published schemes of work without sufficient adaptation to the needs of their own pupils. The constraints of very limited subject specific initial teacher training coupled with little access to continuing professional development, result in a lack of confidence to teach the subject innovatively. Although familiarity with the subject may be adequate to teach a satisfactory art lesson, teachers are often unable to recognise and use assessment opportunities intuitively to move individual pupils on. These represent considerable challenges for subject leaders.
The subject generally suffers from the low priority given to resources, including curriculum time, sometimes hidden by an impressive display of work created by a small minority of pupils able to continue work beyond lesson time. There remain large numbers of pupils with barely satisfactory experience for the majority of their statutory entitlement. Although pupils continue to show very positive attitudes to the subject, strategies to improve learning in other subjects through art are rare.
Strengths of primary art and design
Schools that have developed effective practice in art demonstrate some or all of the following characteristics.
a. Subject leadership is inspirational and determined, maximising the potential of the role through direct teaching of different classes, enrichment activities, and well planned, timed and targeted training for other staff.
b. Curriculum planning is long term, identifying subject specific learning objectives and progression in core subject skills, particularly drawing. The planning ensures that pupils explore visual and tactile concepts on a variety of scales, in two and three dimensions; they investigate the creative potential of a wide range of art media, methods and mixing of media; and there is connectivity between art made by the child and art made by other artists.
c. Subject teaching is distinctive, with visual explanation and clear recognition that first hand experiences and resources are intrinsically rewarding.
d. Learning is individualised, with pupils taking personal responsibility for working safely, independently and cooperatively, sustaining their personal response to ambitious ideas and scale, and recording perceptive observations in analysing images and artefacts. The emphasis on visual communication contributes to the inclusive nature of the subject.
Areas for development in primary art and design
Developing creativity from the Foundation Stage upwards
In some Foundation Stage settings, the expectations of pupils’ creativity are too low and there is insufficient challenge, often due to a lack of training for adults in teaching for creativity. This is exacerbated in Key Stages 1 and 2 where little regard is given to prior learning.
Yet in many Foundation Stage settings pupils enjoy a good start to their visual arts education through creative development. Examples of very young children making creative decisions discerningly, sustaining their work with confidence on a large scale, experimenting with materials and learning new skills patiently through careful observation and listening are reminders of the high standards children are able to reach during their early years. Such positive experiences are often the result of inspired training for adults working in early years settings. Often, an existing depth of understanding about child development has been skilfully related to learning about the management of open-ended approaches to the use of materials and methods. In these circumstances children’s ideas are valued and developed through careful observation and sensitive intervention.
Improving the quality and use of assessment
The assessment of pupils’ progress is unsatisfactory in more than one school in five. Even where art is well taught, teachers have little confidence in how pupils’ work relates to National Curriculum levels and how to apply them. As a consequence, pupils seldom have a long term view of their progress in the subject. In particular:
a. assessments rarely seek to identify strengths and weaknesses in different aspects of a pupil’s creativity across a broad range of two- and three-dimensional media
b. although teachers in some schools use portfolios of individual pupils’ work to make an overall assessment, these assessments often omit any teacher analysis of experiential learning or sketchbook evidence of progress
c. the potential of portfolios and sketchbooks to promote a shared understanding of standards and progress among staff is rarely realised.
There are some signs of improvement, particularly in the assessment of drawing. For example, drawing tasks set at regular intervals are helping teachers to analyse pupils’ progress in making observations and their confidence in using line and tone. In a few schools, pupils’ drawings from across the curriculum are included in the assessment of their progress.
More broadly, some teachers are making good use of plenary sessions for informal assessment, involving pupils in evaluative discussion of each other’s work. At best these discussions show sensitivity, accuracy and appropriate use of technical vocabulary. Often, pupils’ personal insights surprise their teachers: primary age pupils are clearly able to communicate through and about the subject. Frequently, however, opportunities for them to do so are missed.
Taking responsibility to lead
Even in schools where subject leadership is generally good, the monitoring of teaching, learning and standards in art and design is often an area of weakness. Good subject teaching by the subject leader is too often seen in itself as effective leadership and management, with too much left to the discretion or initiative of other teachers and support staff, with undue variability as a consequence.
The role of the headteacher in relation to curriculum and staff development is a critical factor in empowering subject leadership. In particular, where the role of subject leader includes structured time to monitor and evaluate teaching and learning during lessons, there is a clearer understanding of progression and curriculum development needs specific to the subject. School improvement planning, associated resourcing and training opportunities are sharpened by the wide insight of subject leaders who have good information from monitoring at their disposal. The most effective practice often involves a rolling programme which focuses on a specific area of experience or visual/tactile concept to improve as a whole school. Practical ‘hands-on’ training sessions led by the subject leader or other specialist, followed up by informed curriculum planning, supported implementation and critical use of display, characterise the approach used in many schools where provision is good or better.
Enriching the art curriculum
The art curriculum in many primary schools is based on experience of the Department for Education and Skills and Qualifications and Curriculum Authority units of work, which have been effective in broadening the range of artists and approaches used in many schools. Where subject leadership is active, schemes have often been adapted effectively to meet the needs of individual school contexts. In some local education authorities, schemes have been evaluated and further developed, with schools sharing their ideas within an agreed planning framework. The resulting schemes promote continuity while seeking to avoid the repetition that can occur when individual schemes are used in isolation. However, many unsupported teachers continue to use published schemes as a solution rather than a stimulus and as a consequence teaching is formulaic and learning predictable. Aspects of the programmes of study remain underdeveloped so that, as reported in previous years, two-dimensional work predominates. Craft skills, when taught, are often not developed progressively.
Past Ofsted reports have commented on the lack of time available in some schools and the narrowing effect that this can have on the curriculum. Yet in other schools inventive use of time and resources enables ‘art days’ or the ‘arts week’ to flourish. Such events can have many benefits, demonstrating the value of staff working to their strengths and learning new skills alongside each other, often stimulated by a visiting artist using approaches previously unfamiliar to the school. Good subject leaders are often skilled at using opportunities creatively. Satisfaction with the short term success of such projects, however, too often distracts primary schools from the need to embed the experience in the context of the whole curriculum.

SOAL UTS STATISTIK BISNIS I SMT IV PRODI PSY



SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP TAHUN 2014/1015
MATA KULIAH     : STATISTIK
PRODI                     : PSy (Perbankan Syariah)  
SEMESTER            : IV
KAMPUS                :  I (CIGUGUR)


Petunjuk :
1.    Kerjakan secara mandiri
2.    Bila ada jawaban yang sama dianggap tidak mengikuti ujian dan diberi nilai 0

Soal :

Misalkan saudara sebagai manajer sebuah bank swasta, kemudian saudara melakukan uji kompetensi terhadap karyawan yang berjumlah 30 orang. Setelah diperiksa dan diberi skor ternyata didapat jangkauan (range) sebesar 46.
Hipotesis yang diajukan “Karyawan yang berkinerja baik bila perolehan skor kompetensi > 40”.

Berdasarkan keterangan di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :
1.     Buatlah tabel distribusi frekuensi data skor tersebut dan sajikan pula dalam diagram lingkaran.
2.     Hitunglah : rata-rata, median, modus, dan simpangan baku (deviasi standar).
3.     Uji normalitas data tersebut pada taraf signifikan 5%.